Jumat, 03 Juni 2016
Pekan Imunisasi Nasional
06.56.00
No comments
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 8-15 Maret 2016
Polio merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem saraf sehingga penderita menderita kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak umur 0-3 tahun ini ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher dan sakit di tungkai dan lengan. Penyakit polio disebabkan oleh virus yang umumnya masuk melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan tinja dan virus polio. Sama halnya seperti cacar, polio hanya menjangkiti manusia. Dalam tubuh manusia, virus polio menjangkiti tenggorokan dan usus. Selain melalui kotoran, virus polio juga bisa menyebar melalui tetesan cairan yang keluar saat penderitanya batuk atau bersin.
Tidak ada obat untuk polio. Pengobatan bertujuan untuk mengelola efek dari penyakit. Pilihan terapi suportif meliputi:
Antibiotik – untuk infeksi sekunder
Obat penghilang rasa sakit (analgetik)
Ventilator portabel untuk membantu pernapasan
Obat untuk mengurangi kejang otot Latihan atau olahraga ringan-sedang
Fisioterapi
Imunisasi
Imunisasi atau pemberian vaksin polio dapat meminimalisasi terjangkit virus polio. Anak-anak, wanita hamil dan orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, sangat rentan terkena virus polio jika di daerah mereka tidak terdapat program imunisasi atau tidak memiliki sistem sanitasi yang bersih dan baik.
Orang-orang yang belum divaksinasi akan memiliki tingkat risiko terjangkit polio yang tinggi jika melakukan atau mengalami hal-hal seperti berikut ini.
Tinggal serumah dengan penderita polio.
Sistem kekebalan tubuh yang menurun.
Bepergian ke daerah di mana polio masih kerap terjadi.
Telah melakukan operasi pengangkatan amandel.
Menurut Jane, masih banyak ditemukan kantong-kantong yang tersebar pada hampir seluruh provinsi yang belum terjangkau imunisasi polio sehingga pada PIN 2016 harus bisa menjangkau lebih dari 95 persen bayi di Indonesia.
“Memang sudah tidak ada lagi kasus polio di Indonesia sejak tahun 2006 dan Indonesia juga sudah dinyatakan bebas polio 27 Maret 2014, namun virus ini bisa menyebar lagi ke Indonesia karena ada dua negara yang belum bebas polio yaitu Afganistan dan Pakistan,” kata ia menambahkan.
Ia menjelaskan, bahwa PIN 2016 akan dilaksanakan 8 – 15 Maret 2016 dengan pemberian vaksin aktif melalui mulut dua tetes setiap anak usia 0 sampai 59 bulan tanpa melihat status imunisasinya.
Setelah kegiatan itu maka pada April 2016 akan dilakukan penggantian jenis vaksin trivalent oral polio vaccine (tOPV) ke bivalent oral polio vaccine (bOPV) artinya mengganti jenis vaksin polio dari tiga tipe virus ke dua tipe virus.
Kemudian pada Juli 2016, dilakukan introduksi jenis vaksin Inactivated Polio Vaccine (IPV) atau vaksin dengan virus inaktif yang diberikan melalui suntikan kepada bayi usia empat bulan.
Ia meminta, seluruh pemerintah daerah terus melakukan sosialisasi dan kesiapan sarana agar petugas PIN mampu menjangkau daerah-daerah yang terpencil.
“Imunisasi wajib diberikan pada anak dan merupakan hak anak. Tidak boleh ada orangtua yang melarang sang anak mendapat vaksin. Bahkan, orang lain pun tidak boleh menghalang-halangi anak diimunisasi,” kata ia menutup pembicaraan.
PIN Polio merupakan kegiatan imunisasi tambahan untuk mencakup seluruh anak umur 0-59 bulan tanpa melihat status imunisasinya, dengan memberikan imunisasi Polio di pos imunisasi.
Siapa sasaran PIN Polio?
PIN Polio ditujukan bagi anak yang berumur 0 bulan s.d 59 bulan, termasuk pendatang. Jika pada pelaksanaan PIN Polio ditemukan anak yang seharusnya mendapatkan Imunisasi Polio rutin, maka pemberian Imunisasi Polio pada waktu PIN dicatat sebagai Imunisasi PIN. Selanjutnya anak tersebut harus tetap melengkapi Imunisasi dasar. Anak-anak yang sedang dirawat di Rumah Sakit selama masa pelaksanaan PIN Polio agar diberikan imunisasi Polio segera setelah sembuh.
CATATAN:
Anak yang menderita diare dan demam, pemberian imunisasi Polio ditunda sampai anak tersebut sembuh Bagi anak-anak dengan imunokompromais (rawat jalan maupun rawat inap di rumah sakit) serta bagi balita yang tinggal serumah dengan pasien tersebut agar diberikan Inactivated Polio Vaccine (IPV) di rumah sakit Bagi bayi dengan berat badan lahir rendah (≤ 2000 gram), pemberian imunisasi Polio ditunda sampai berat badan lebih dari 2000 gram atau usia lebih dari 2 bulan (dengan
kondisi klinis stabil)
Dimana sasaran memperoleh imunisasi Polio?
Di pos pelayanan imunisasi (posyandu, puskesmas, rumah sakit, dan unit pelayanan kesehatan swasta) terminal, pasar, pelabuhan/bandara, sekolah, dll.
Tidak ada obat untuk polio. Pengobatan bertujuan untuk mengelola efek dari penyakit. Pilihan terapi suportif meliputi:
Antibiotik – untuk infeksi sekunder
Obat penghilang rasa sakit (analgetik)
Ventilator portabel untuk membantu pernapasan
Obat untuk mengurangi kejang otot Latihan atau olahraga ringan-sedang
Fisioterapi
Imunisasi
Imunisasi atau pemberian vaksin polio dapat meminimalisasi terjangkit virus polio. Anak-anak, wanita hamil dan orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah, sangat rentan terkena virus polio jika di daerah mereka tidak terdapat program imunisasi atau tidak memiliki sistem sanitasi yang bersih dan baik.
Orang-orang yang belum divaksinasi akan memiliki tingkat risiko terjangkit polio yang tinggi jika melakukan atau mengalami hal-hal seperti berikut ini.
Tinggal serumah dengan penderita polio.
Sistem kekebalan tubuh yang menurun.
Bepergian ke daerah di mana polio masih kerap terjadi.
Telah melakukan operasi pengangkatan amandel.
Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio tahun 2016
Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio tahun 2016 di Indonesia bertujuan untuk mendukung tercapainya eradikasi polio di dunia pada akhir 2020, demikian kata Direktur Surveillance dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Dr Jane Soepardi di Jakarta, Kamis (04/02).
“Dunia sudah berhasil melakukan eradikasi penyakit cacar tahun 1980, dan kini dunia berupaya agar penyakit polio juga hilang di tahun 2020. Sidang World Health Assembly tahun 2012 juga menyatakan eradikasi polio merupakan kedaruratan kesehatan masyarakat global,” kata ia kepada wartawan.Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio tahun 2016 di Indonesia bertujuan untuk mendukung tercapainya eradikasi polio di dunia pada akhir 2020, demikian kata Direktur Surveillance dan Karantina Kesehatan Kemenkes, Dr Jane Soepardi di Jakarta, Kamis (04/02).
Menurut Jane, masih banyak ditemukan kantong-kantong yang tersebar pada hampir seluruh provinsi yang belum terjangkau imunisasi polio sehingga pada PIN 2016 harus bisa menjangkau lebih dari 95 persen bayi di Indonesia.
“Memang sudah tidak ada lagi kasus polio di Indonesia sejak tahun 2006 dan Indonesia juga sudah dinyatakan bebas polio 27 Maret 2014, namun virus ini bisa menyebar lagi ke Indonesia karena ada dua negara yang belum bebas polio yaitu Afganistan dan Pakistan,” kata ia menambahkan.
Ia menjelaskan, bahwa PIN 2016 akan dilaksanakan 8 – 15 Maret 2016 dengan pemberian vaksin aktif melalui mulut dua tetes setiap anak usia 0 sampai 59 bulan tanpa melihat status imunisasinya.
Setelah kegiatan itu maka pada April 2016 akan dilakukan penggantian jenis vaksin trivalent oral polio vaccine (tOPV) ke bivalent oral polio vaccine (bOPV) artinya mengganti jenis vaksin polio dari tiga tipe virus ke dua tipe virus.
Kemudian pada Juli 2016, dilakukan introduksi jenis vaksin Inactivated Polio Vaccine (IPV) atau vaksin dengan virus inaktif yang diberikan melalui suntikan kepada bayi usia empat bulan.
Ia meminta, seluruh pemerintah daerah terus melakukan sosialisasi dan kesiapan sarana agar petugas PIN mampu menjangkau daerah-daerah yang terpencil.
“Imunisasi wajib diberikan pada anak dan merupakan hak anak. Tidak boleh ada orangtua yang melarang sang anak mendapat vaksin. Bahkan, orang lain pun tidak boleh menghalang-halangi anak diimunisasi,” kata ia menutup pembicaraan.
PIN Polio merupakan kegiatan imunisasi tambahan untuk mencakup seluruh anak umur 0-59 bulan tanpa melihat status imunisasinya, dengan memberikan imunisasi Polio di pos imunisasi.
Siapa sasaran PIN Polio?
PIN Polio ditujukan bagi anak yang berumur 0 bulan s.d 59 bulan, termasuk pendatang. Jika pada pelaksanaan PIN Polio ditemukan anak yang seharusnya mendapatkan Imunisasi Polio rutin, maka pemberian Imunisasi Polio pada waktu PIN dicatat sebagai Imunisasi PIN. Selanjutnya anak tersebut harus tetap melengkapi Imunisasi dasar. Anak-anak yang sedang dirawat di Rumah Sakit selama masa pelaksanaan PIN Polio agar diberikan imunisasi Polio segera setelah sembuh.
CATATAN:
Anak yang menderita diare dan demam, pemberian imunisasi Polio ditunda sampai anak tersebut sembuh Bagi anak-anak dengan imunokompromais (rawat jalan maupun rawat inap di rumah sakit) serta bagi balita yang tinggal serumah dengan pasien tersebut agar diberikan Inactivated Polio Vaccine (IPV) di rumah sakit Bagi bayi dengan berat badan lahir rendah (≤ 2000 gram), pemberian imunisasi Polio ditunda sampai berat badan lebih dari 2000 gram atau usia lebih dari 2 bulan (dengan
kondisi klinis stabil)
Dimana sasaran memperoleh imunisasi Polio?
Di pos pelayanan imunisasi (posyandu, puskesmas, rumah sakit, dan unit pelayanan kesehatan swasta) terminal, pasar, pelabuhan/bandara, sekolah, dll.
Selasa, 31 Mei 2016
lembaga pemberdayaan masyarakat
23.35.00
No comments
Tugas Dan Fungsi Lembaga Pemberdayaan
Masyarakat
Menurut
Peraturan Mentri Dalam Negri Nomor 5 Tahun 2007 Tentang Pedoman Penataan
Lembaga Kemasyarakatan jelas menyebutkan terkait dengan tugas dari Lembaga
Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)
mempunyai tugas membantu Lurah dalam pelaksanaan urusan pembangunan, sosial
kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Adapun Lembaga Pemberdayaan
Masyarakatdalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (1)
dan ayat (2)mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut :
Tugas Lembaga Pemberdayaan Masyarakat :
a. Menyusun rencana pembangunan yang partisipatif.
b. Menggerakan swadaya gotong royong masyarakat.
c. Melaksanakan dan mengendalikan
pembangunan.
Fungsi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat :
a. Penampung dan penyalur aspirasi
masyarakat dalam pembangunan.
b. Penanaman dan pemupukan rasa persatuan
dan kesatuan masyarakat dalam rangka memperkokoh Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
c. Peningkatan kualitas dan percepatan
pelayanan pemerintah kepada masyarakat.
d. Penyusunan rencana, pelaksana,
pengendali, pelestarian dan pengembangan hasil-hasiln pembangunan secara
partisipatif.
e. Penumbuh kembangan dan penggerak
prakarsa dan partisipasi, serta swadaya gotong royong masyarakat.
f. Penggali, pendayagunaan dan
pengembangan potensi sumberdaya serta keserasian lingkungan hidup.
Kegiatan
Lembaga Kemasyarakatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) ditujukan
untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui:
a. Peningkatan pelayanan masyarakat
b. Peningkatan peran serta masyarakat
dalam pembangunan
c. Pengembangan kemitraan
d. Pemberdayaan masyarakat dan
e. Pengembangan kegiatan lain sesuai
dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat setempat.
Daftar Pengurus LPM Desa Biting
Supar = Ketua
Heri
Purnomo = Wakil ketua
Agus
Jarwadi = Sekertaris 1
Sutanto = Sekertaris 2
Marmin = Bandahara 1
Kasno = Bandahara 2
Taji = Seksi Agama
Bibit = Seksi Agama
Agus
Jarwadi = Seksi pemuda
Lasmo = Seksi Pemuda
Profil Desa
23.16.00
1 comment
Profil desa Biting
Nama Desa
|
:
|
BITING
|
Tahun Pembentukan
|
:
|
1935
|
Dasar Hukum Pembentukan
|
:
|
UU N0.5 TAHUN 1979
|
Nomor Kode Wilayah
|
:
|
|
Nomor Kode Pos
|
:
|
57694
|
Kecamatan
|
:
|
PURWANTORO
|
Kabupaten / Kota
|
:
|
WONOGIRI
|
Provinsi
|
:
|
JAWA TENGAH
|
Tipologi Desa
|
:
|
Dataran Tinggi
|
Tingkat Perkembangan Desa
|
:
|
Swadaya
|
Luas Wilayah
|
:
|
670.30 ha
|
Batas Wilayah
|
||
Sebelah
Utara
|
:
|
Desa Kepyar
|
Sebelah
Selatan
|
:
|
Keluraham Tegalrejo
|
Sebelah
Barat
|
:
|
Kelurahan Purwantoro
|
Sebelah
Timur
|
:
|
Desa Biting Jawat imur
|
Senin, 23 Mei 2016
Gallery
08.08.00
No comments
Kepala Desa Biting
Proses sosialisasi web desa Biting
Proses sosialisasi web desa Biting
Proses sosialisasi web desa Biting
Proses sosialisasi web desa Biting
Kepala Desa Biting dan Kepala Dusun Senayu
Kondisi Persawahan di Desa Biting
Tanaman Padi Di desa Biting
Kondisi Persawahan di Desa Biting
Kondisi Persawahan di Desa Biting
Tanaman Cabai di Desa Biting
Tanaman Jagung Di desa Biting
Tanaman Jagung Di desa Biting
Tanaman Cabai di Desa Biting
Lahan Tebu di Desa Biting
Lahan Tebu di Desa Biting
Keagamaan
07.29.00
No comments
Berikut ini adalah sarana ibadah yang berada di desa Biting
1. Masjid An-nur
Senayu Biting Purwantoro
Senayu Biting Purwantoro
Sumber Biting Purwantoro
Masjid Dahidul-hikmah
Jatisari Biting Purwantoro
Masjid Hidayatul asroh
Sigereng Biting Purwantoro
Mushola Nurul-Iman
Jatisari Biting Purwantoro
Jatisari Biting Purwantoro
Mushola Arohman
Jatisari Biting Purwantoro
Masjid Al-Umroh
Sigereng Biting Purwantoro
Sigereng Biting Purwantoro
Sigereng Biting Purwantoro
Gereja Bukitsion Prongkol
Jatisari BIting Purwantoro



